Senin, 10 Mei 2010

HOMILETIKA (ILMU BERKHOTBAH / PREACHING)

HOMILETIKA(ILMU BERKHOTBAH / PREACHING)
Disusun oleh: Ingar Sinaringbudi Hadiprasetya, D.Miss.

Pendahuluan
> Ada tiga hal yang penting dalam hal berkotbah:
Pertama, Pribadi yang berkhotbah (diperkuat dengan kesaksian, selaras
dengan kelakuan).
* Penerimaan pesan Allah tergantung pada kehidupan pribadi
pengkhotbah. Jika pengkhotbah dihormati, pesannya akan didengar
dengan baik. Namun, jika pengkhotbah tidak dihormati, pesannya
tidak diterima jemaat.

* Watak (karakter) pribadi pengkhotbah yang baik mendorong jemaat
untuk mendengarkan pesannya. Sebaliknya, watak yang kurang baik
akan menghalangi proses komunikasi.

* Pengkhotbah harus yakin bahwa Firman itu didalam dan dari dirinya
sendiri mempunyai kuasa terhadap jemaat. Si pengkhotbah hanyalah
ikut serta dalam proses ini. Firman itu didalam dan dari dirinya
sendiri mempunyai kuasa yang berasal dari kuasa dan kehadiran
Allah. Bahkan sebelum si pengkhotbah membaca teks, Firman itu hidup
dengan kuasa Allah. Adalah salah bila kita berpikir bahwa Firman itu
membutuhkan si pengkhotbah. Yang benar adalah sebaliknya, si
pengkhotbah yang membutuhkan Firman itu. Seorang pengkhotbah
hendaklah dikuasai Firman daripada menjadi tuan yang memakai Firman.

Kedua, Isi Khotbahnya (materi, doktrinya, pendahuluan, garis besarnya,
ilustrasi, penutup).
* Perlu diperhatikan ada tiga dinamika disini sebelum membahas isi khotbah
yakni: pilihan ayat Alkitab, keterbukaan pendeta untuk mendengar dari
Allah dan pemahaman akan kebutuhan jemaat.

* Khotbah harus memiliki gabungan yang baik antara informasi historis dan
kontemporer. Khotbah harus disajikan dengan: baik, menarik intelektual
dan emosi(semangat, perasaan, mengekspresikan seseuatu dengan perkataan
/gerak- gerik, urapan Roh).

* Apakah khotbah yang ada di dalam pikiran dan hati si pengkhotbah itu
dipandang sebagai suatu penjelasan mengenai ide-ide ataukah suatu
tindakan pelayanan kepada Allah?

Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan arah dan pengaruh pesan yang
ingin disampaikan. Kristus tidak mati untuk ide-ide abstrak, demikian juga
khotbah bukanlah untuk menyebarkan ide-ide. Khotbah bukanlah sekedar
penyaluran informasi. Khotbah adalah Allah yang sedang berbicara
kepada manusia melalui Firman.

Ketiga, Cara Penyampaian / Penyajian (volume suara, intonasi,
kecepatan suara, tekanan suara, panjang pendeknya kalimat,
penampilan, berpakaian rapi dan sopan, rambut yang rapi, make up yang
natural ; assesoris yang tidak glamour; cara mendramatisir sebuah cerita
supaya lebih hidup).

> Berkhotbah adalah penyampaian kebenaran ilahi melalui kepribadian
insani.

> Khotbah dan mengajar merupakan bagian yang amat penting dalam
panggilan seorang pendeta. Yang dimaksud bagian yang amat penting dalam
panggilan seorang pendeta adalah mencakup seluruh kesaksian hidupnya;
artinya khotbah dan pengajaran itu harus sesuai dengan kesaksian hidupnya.
Apa yang diajarkan dan dikhotbahkan merupakan pergumulan seluruh hidup
dan kesaksiannya. Dengan demikian dia bukan semata-mata menjadi orang
yang pandai berkhotbah dan mengajar, tetapi kesaksian hidupnya menjadi
batu sandungan di tengah- tengah jemaat. Khotbah dan ajaran yang sejati
bukan semata-mata di atas mimbar, tetapi justru dibawah mimbar, yakni
realita hidupnya bersama – sama seluruh anggota jemaat.

> Persiapan khotbah hanya satu bagian dari proses khotbah; bagian penting yang
lainnya adalah penyampaian.

> Jalan memperbaiki cara berkhotbah adalah dengan lebih dahulu
memperbaiki sang pengkhotbah.

> Waspadalah terhadap jerat pengkhotbah:
- motivasi yang salah (sekedar mengejar popularitas, komoditi “Amplop”).
- kemunafikan yang terselubung (membual, apa yang dikatakan tidak sama
dengan apa yang ia perbuat).
- kepalsuan yang lembut(kurang berani menyampaikan kebenaran dengan tegas).

Syarat - Syarat Yang Harus Dimiliki Si Pengkhotbah:
* Tulus: tulus dalam persekutuan dengan Tuhan, tulus dalam hal berdoa dan
membaca Alkitab, tulus dalam hal menurut pimpinan dan kenyataan Ilahi,
tulus dalam berkhotbah.
* Lurus: tidak bengkok. Lurus dalam menguraikan tujuan ayat mas, lurus
mengikuti bab dan bagian - bagiannya, lurus dalam menyusun cerita.
* Bagus: jelas dan lancar. Percakapannya bagus, bagus isinya, bagus
susunannya, bagus perbandingannya, dan bagus kesimpulannya.,
* Nyata: tidak fiksi, tidak dibuat-buat, bukan bualan (kesombongan),
tidak boleh melakukan kemunafikan (tipuan).
* Berkuasa mengubah (transforming power): mengena dihati dan akal budi,
transformasi karakter dan perilaku, terjadinya perubahan kehidupan rohani
(Roma 12:1-2). Perilaku orang percaya diubah melalui proses pengajaran
dan pemuridan.
* Dinamika (kepekaan menangkap apa yang Tuhan mau katakan pada saat itu).
* Bermutu: tidak asal comot, tidak meniru / plagiator khotbahnya pendeta lain.
* Struktur: memiliki alur cerita yang jelas, kutipan yang jelas.
* Mendalam: menggali dengan eksposisi yang benar dan berguna.
* Rajin dan Tekun: pengertian yang tepat aka nisi Alkiab tidak terjadi secara
otomatis tanpa usaha, untuk itu diperlukan kerajinan dan ketekunan dalam
mempelajari Alkitab.
* Variatif: menyajikan dengan beragam variasi sesuai dengan tema, suasan dan
tempat.
* Inspirational: memberi inspirasi dan terobosan baru.
* Dialogis: panggilan dan tanggapan.
* Bersungguh-sungguh: sanggup dipertanggungjawabkan secara teologis,
dengan segala implikasi teologis didalamnya.
* Disiplin Mempelajari Firman Tuhan: secara komprehensif dan progresif
(terus menerus).
* Mempersiapkan Khotbah Sendiri: bisa original (karangan sendiri) atau
menggunakan metode ATM (Amati –Tiru - Modifikasi).
* Menyampaikan Khotbah Dengan Kasih, belas kasihan dan Kuasa Roh
Kudus.
* Khotbah dengan otoritas, antusias dan bukan arogan (kesombongan).
* Melodramatis: berkhotbah adalah sebuah seni yang bisa mencakup
sandiwara. Memasukan unsur emosional (mendramatisir).
* Kesediaan untuk dinilai dan direspon oleh jemaat: bermutu atau lemah.
* Mencatat Khotbah yang akan disampaikan: untuk pertanggungjawaban dan
dokumentasi.
* Review (pelajari /diulang kembali) secara teratur apa yang sudah
dikhotbahkan: untuk mengevaluasi dan mempelajari lebih mendalam lagi,
menyempurnakan bahan yang dipakai.
* Efektif dan efisien (menyampaikan point yang penting saja dan penggunaan
waktu).
* Gunakan alat bantu: Chart/ alat peraga, Slide OHP; ilustrasi,Visual.
* Perhatikan kelompok pendengar yang hadir:
- Orang yan belum percaya (Sarkikos) – I Kor 3:1, 3.
- Kristen baby/ masih kanak-kanak – mencari susu bukan makanan keras .
- Kristen Carnal (bersifat kedagingan) – (psikhikos / natural) I Kor.2:14.
- Kristen dewasa / matang / Manusia rohani (pneumatikos) sudah terlatih
panca inderanya dan membutuhkan makanan keras bukan susu lagi –
(I Kor.2:15).
* Melakukan inovasi: berani mencoba yang baru, tehnik pendekatan
/ penyampaian.
* Mengembangkan dan melatih karunia: untuk membangun dan membawa
orang – orang kepada kedewasaan dalam Kristus.
* Optimis / Positif: berpikir positif, memiliki paradigma baru, perspektif yang
holistic.
* Senantiasa melakukan pemberesan dosa: kelemahan, kekurangan, cacat cela, dls.

> Khotbah bukanlah suatu risalah atau karangan sastra untuk diterbitkan
dengan maksud dibaca berulang-ulang, melainkan suatu berita yang dimaksudkan untuk
didengar dan mempunyai dampak langsung pada pendengar-pendengarnya.

> Tujuan utama sebuah khotbah adalah untuk kemuliaan Allah (to glorifying
God and enjoying God).

> Tujuan utama dalam menyampaikan khotbah adalah untuk membangun iman
di dalam hati pendengar.

> Khotbah adalah Firman Allah yang diterima, dirasakan dan dilakukan oleh
diri sendiri, kemudian diutarakan dengan tegas dan nyata, supaya menjadi
kesaksian dan jalan keselamatan bagi orang lain.

> Khotbah bukan hanya masalah teknik pidato/khotbah (di dalam theologi
disebut homiletika), bukan hanya masalah penguasaan bahan secara akademis,
tetapi khotbah yang terpenting adalah berita (message).

> Khotbah bukan sekedar mengisi waktu dalam salah satu mata liturgy
kebaktian.

Unsur Khotbah harus berisi:
* Teologis (Doktrinal, Sistematika dan Dogmatika, Misiologi, Etika)
* Biblika (Teks, Analisa): Ekesgese dan Hermenenutika
* Apologetis/ Historika (Pertanggungjawaban iman)
* Aplikasi / Penerapan untuk masa kini.
* Ketergantungan kepada Roh (kuasa, pengurapan, penyembuhan
dan pelepasan) (Bnd.Yesaya 61:1-3; Lukas 4:16-20; Matius 7:29).


> Khotbah sebagai sarana untuk mendidik Karakter dan Kehidupan Kristen.

> Di dalam gereja Kristen saat ini, ada dua kecenderungan ekstrim para
pengkhotbah, yaitu di satu sisi, sangat memperhatikan persiapan sebelum
berkhotbah, tetapi tidak terbuka pada kuasa Roh Kudus yang spontan.
Di sisi lain, ada pengkhotbah yang terlalu mementingkan kuasa Roh Kudus,
tetapi mengabaikan persiapan khotbah, sehingga khotbahnya pun asal-
asalan, yang penting “dari Roh Kudus”. Kedua hal ini tidak benar.

Jika kita terlalu menekankan persiapan yang matang tetapi tidak terbuka pada
pimpinan spontan dari Roh Kudus berarti kita terlalu mengandalkan
kehebatan manusia di dalam menyampaikan berita Firman.
Sebaliknya, jika kita terlalu menekankan pimpinan spontan dari Roh Kudus dan
tidak mempersiapkan khotbah dengan baik, itu berarti kita tidak
bertanggungjawab (akan jatuh ke mistikisme, pengkultusan pribadi,
hyper thinking positivism) .Teknik khotbah yang bertanggungjawab adalah
teknik khotbah yang seimbang.

> Di dalam khotbah terdapat unsur rekreatif (menghibur orang, bukan hanya diri
sendiri), dan unsur edukatif (mendidik dengan mengarahkan serta memberi
jalan keluar) berdasarkan pada Firman TUHAN.

> Khotbah yang baik adalah kotbah yang jelas serta merangsang
(mendorong) orang untuk mengambil keputusan secara sadar, bebas dan tepat.”

> Khotbah memiliki kekuatan yang dapat mengubah pendengarnya.

> Ingatlah bahwa khotbah bukan untuk mengetengahkan kehebatan ilmu anda, tetapi
untuk menyampaikan iman dan kesaksian firman yang mengubahkan hidup orang.

> Khotbah dan mengajar juga menyangkut pemeliharaan terhadap anggota
jemaat dari segala macam ajaran-ajaran sesat, dari segala pengaruh dunia yang
ada dalam pola globalisasi – sehingga pengaruh universalisme, hedonisme
dan materialisme begitu kuat.


Definisi:
Homiletika adalah ilmu yan menerangkan ayat mas atau kepandaian menguraikan suatu hal. Kata ini berasal dari bahasa Yunani “Homilia”, yang berarti: perundingan, penguraian atau kotbah. Kata “homilia” yang berarti “perbincangan dari hati ke hati heart to heart).
Dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan ilmu berkotbah atau pelajaran berbicara dihadapan orang banyak (sidang).

Prinsip Sifat Khotbah Alkitabiah Yang Komunikatif:
1. Khotbah berdasarkan pada teks Alkitab, baik pendek, maupun panjang.
2. Pengkhotbah mencari arti pokok dari teks tersebut.
3. Khotbah mengaitkan arti teks ke konteks teks tersebut.
4. Pengkhotbah mencari prinsip-prinsip dari teks yang dapat dipakai sekarang
(diaplikasikan) sama seperti masa lalu.
5. Pengkhotbah mengatur/mendapatkan kebenaran-kebenaran itu disekitar satu
tema pokok.
6. Khotbah memakai elemen pembicaraan dengan menjelaskan,
mempertahankan, menggambarkan dan menggunakan kebenaran teks
tersebut untuk menghidupkan teks di dalam kehidupan para pendengar.
7. Pengkhotbah bermaksud mendorong pendengar untuk mentaati kebenaran
dari teks itu.
8. Seorang pengkhotbah yang baik tidak menyayangkan perasaan
pendengarnya agar jangan sampai dibuat terluka (berani menjatakan
kesalahan dan dosa, teguran nyata-nyata).


KUALIFIKASI PENGKHOTBAH
I Timotius 4:16 = Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau. Pengkhotbah tidak bisa
dipisahkan dari khotbahnya. Pengkhotbah adalah merupakan khotbahnya
(The speaker is his sermon).

Seorang pengkotbah harus menjadi contoh hidup atas apa yang ia khotbahkan kepada orang lain.
* Dengan Ajarannya – apa yang ia katakana (II Tim3:10).
* Dengan Contohnya – apa adanya ia (II Tim.3:10).
* Dengan Tingkah Lakunya – apa yang dia perbuat (Yoh.13:12-15; Mat.5:19;
Yes.2:1-4).

Seorang pengkhotbah dalam pengajarannya adalah penerapan Firman dalam gaya hidup dan tidak semata-mata informasi tentang Firman.

Ada beberapa kualifikasi pengkhotbah, yakni:
1. Ia harus dilahirkan kembali (Yoh.3: 3-7). Jika pengkhotbah belum dilahirkan
kembali, khotbah semata-mata hanya profesi atau alat untuk mendapatkan
nafkah hidup. Orang yang demikian hanyalah seperti orang buta yang
menuntun orang buta (Mat. 15:14).

2. Ia harus mengasihi Tuhan Yesus. Khotbah merupakan ungkapan kasih kepada
Kristus dan ini harus menjadi motivasi kita melayani (2 Kor.5:14-15). Kasih
kepada Kristus merupakan kekuatan yang memadai di tengah-tengah segala
macam kesulitan (Rom.8:35-39). Harus ada hubungan pribadi dengan Tuhan.

3. Ia harus mengasihi orang-orang yang diberitakan. Kita harus menguji diri
kita sendiri dalam setiap pekerjaan kita (Gal.6:4). Kasih itu lebih dari pada apa
yang dapat kita katakan (1 Kor.13:1), lebih dari pada apa yang kita miliki
(1 Kor.13:2) dan lebih dari pada apa yang kita berikan (1 Kor.13:3).

4. Ia harus mempunyai pengetahuan yang mendalam akan Alkitab.Seperti
halnya guru matematika harus menguasai matematika. Pengkhotbah harus
mengetahui Alkitab secara umum. Biasakan diri juga untuk menghafal ayat-
ayat Alkitab. Seorang pengkhotbah harus mencintai Alkitab.

5. Ia harus menjadi manusia yang berdoa. Pelayanan tanpa doa akan kehilangan
kepekaan terhadap suara atau pimpinan Tuhan dan kuasa.

6. Ia harus hidup suci di hadapan Allah dan manusia. Kita melayani Allah yang
Mahasuci, maka pengkhotbah juga harus demikian (Yes.52:11, 1 Petrus.1:16)

7. Ia harus siap untuk pelayanan. Ia harus siap secara rohani, fisik, mental,
pendidikan.

PERANAN ROH KUDUS DALAM KHOTBAH
Berkhotbah yang kena sasaran bukan hasil ilmu dan teknik saja, tetapi karena kuasa Roh Kudus. Roh Kudus memiliki peranan penting yakni:
1. Roh Kudus memberi hikmat kepada pengkhotbah untuk menentukan nas-nas
atau ayat/perikop yang akan dikhotbahkan.

2. Roh Kudus memberikan pencerahan atau iluminasi kepada pengkhotbah dan
juga pendengar.

3. Roh Kudus menggerakkan ingatan pengkhotbah pada nas lain, ilustrasi dan penerapan
praktis yang masih berkaitan dengan nas khotbah yang disampaikan.

4. Roh Kudus memberikan keyakinan dan keberanian saat berkhotbah.

5. Roh Kudus memberikan konsentrasi kepada pendengar pada saat khotbah disampaikan.

6. RohKudus menginsafkan akan dosa, kebenaran dan penghakiman(Yoh.16:8).

7. Roh Kudus menanamkan Firman Tuhan dalam hati pengkhotbah dan
pendengar, serta memotivasi untuk melakukan dalam kehidupannya(Yes.55:11)

Peran Khotbah Dalam Pembaruan Pelayanan Mimbar
Bagian tiga terdiri dari tiga, yaitu:
1. Perbaruilah pemahaman tentang filsafat berkhotbah.
2. Perbaruilah usaha untuk memvariasikan khotbah.
3. Pendekatan variatif dalam penyampaian khotbah.

Catatan:
Tetapi satu hal yang harus diingat bahwa bagaimanapun, kualitas lebih penting daripada variasi sehingga variasi tidak boleh mengorbankan kualitas.Variasi dapat berupa penyesuaian dalam gaya, penyampaian, perkataan, jenis khotbah dll.

KETRAMPILAN BERKHOTBAH
Diambil dari Tri Kadarsilo, Model Alternatif Latihan Khotbah – Dasar-Dasar Micropreaching, Penerbit Andi Offset Yogyakarta, 2004, hal.22-25), sbb:
1. Kata Pengantar: membangkitkan minat, sesuai dengan tema, panjangnya
memadai.
2. Volume Suara: keras dan enak didengar, volume seusai dengan keadaan,
penggunaan mike.
3. Istirahat /Jeda: jeda tanda baca, jeda pergantian pokok pikiran, jeda
menandaskan, jeda untuk kondisi, jeda menemukan ayat.
4. Penggunaan Alkitab: perintah mencari ayat, durasi (waktu) menemukan ayat.
5. Penghantaran Ayat: menjadikan ingin tahu, mengarahkan penggunaannya.
6. Pembacaan Ayat: ketepatan tekanan kata, penggunaan metode, mengaktifkan
jemaat.
7. Penjelasan penerapan: menyisihkan kata kunci, relasi dengan pengantar.
8. Penggulangan / Penandasan: relasi dengan tema utama, relasi dengan tema.
9. Penggunaan Isyarat: membantu melukiskan, membantu menandaskan.
10. Tema Pokok Yang Ditandaskan: temua yang sesuai, pengulangan gagasan tema.
11. Penonjolan Pokok Utama: jumlah cukup, perkembangan pokok utama
terpisah, pokok tambahan pada gagasan utama.
12. Kontak dengan Hadirin: kontak mata, sapaan langsung.
13. Penggunaan rangka (outline): pendahulua, batang tusbuh /isi , penutup.
14. Percakapan: kelancaran dan jelas.
15. Percakapan / Gaya: penggunaan pernyataan, penggunaan percakapan.
16. Percakapan: pelafalan.
17. Pertautan Sub pokok Materi: dengan peralihan, memadai bagi hadirin, utama
logis, bahan saling terkait, menjaga gagasan kunci.
18. Argumen: peletakan dasar, pembuktian yang baik, iktisar efektif.
19. Membantu Berpikir: menjaga pengertian, mengembangkan pokok,
mengembangkan penerapan.
20. Tekanan Arti Pada Kalimat: kata kunci pikiran, pokok utama khotbah.
21. Modulasi Suara: variasi kekuatan, variasi kecepatan, variasi tinggi rendah
(nada); kesesuaian emosi dan buah pikiran.
22. Semangat: menghidupkan khotbah, kesesuaian dengan bahan.
23. Kehangatan/ Perasaan: pada mimik wajah, pada suara, sesuai dengan bahan.
24. Perumpamaan: kesederhanaan, penjelasan penerapan, kesesuaian dengan bahan.
25. Penyapaan Hadirin: Kesesuaian dengan kondisi, citra yang baik.
26. Kesesuaian dengan PI: ungkapan mudah/ umum, pilihan pokok sesuai,
penonjolan nilai praktis.
27. Kata penutup: sesuai dengan tema khotbah, mendorong kepada perilaku,
panjangnya memadai.
28. Keyakinan / ketenangan Diri: cara membawakan diri, pengendalian suara.
29. Penampilan Pribadi: keserasian pakaian/dandanan, sikap tubuh, kerapian
perlengkapan, ekspresi muka, kebersihan badan/muka.

BAGAN / STRUKTUR KHOTBAH
Teks:
Judul / Tema:
Tujuan Khotbah:
a. Secara Umum: ....................................................................
b. Secara Khusus: ....................................................................
Ayat Yang Digunakan: ............................................................

GARIS BESAR KHOTBAH (OUTLINE)
Garis besar khotbah bisa membuat khotbah berhasil dan juga gagal. Garis besar yang buruk menghalangi sebuah khotbah, sehingga tidak menjadi pengalaman biasa-biasa saja. Menguraikan khotbah mencakup pengaturan ide-ide dalam pesan sehingga dapat disampaikan dengan jelas kepada para pendengar. Suatu garis besar yang baik membantu pelayanan menyampaikan apa yang hendak dikatakan secara jelas dan sederhana.

PENDAHULUAN / PEMBUKAAN.
* Menunjukkan tema (Tepat, Singkat, Unik, Mengesankan)
* Menciptakan Kebutuhan
* Menarik
* Ringkas/Singkat.
* Pendahuluan sebagai daya tarik khotbah.
* Pendahuluan sebagai penyuluh tema khotbah.



BATANG TUBUH / ISI KHOTBAH:
Isi khotbah adalah penjelasan atau penguraian dari ide khotbah yang berupa pokok-pokok besar yang dijelaskan lagi melalui pokok-pokok kecil, yang bentuknya bisa berupa eksposisi, ilustrasi, dan aplikasi.

BAHAN BATANG TUBUH / ISI KOTBAH:
* Khotbah Pengajaran.
* Khotbah Ajakan / Persuasif .
* Khotbah Nasihat / Motivasional.
* Khotbah Kebaktian.
* Khotbah Perumpamaan.
* Khotbah Kesaksian.
* Khotbah Penuturan
* Khotbah Tafsiran (exegetical, doctrine, practical).
* KhotbahTekstual – Naratif – Ekspositori.
* Khotbah Topik/ Tematik.
* Khotbah kebutuhan khusus jemaat .

I. AMANAT KHOTBAH
* Berisi satu ide utama.
* Bersifat universal,
* Bentuk: Past Tense, Present Tense dan Future Tense.
* Kalimat Deklaratif / Proclamation.
* Singkat, Jelas dan Menarik.
* Dapat menggunakan sebuah kata kunci.
* Dapat memuat sebuah kalimat aplikasi.
* Dapat membuat singkatan / akronim yang dapat diingat.

II. KERANGKA KHOTBAH:
A. Penjelasan:
* Orientasi
* Konteks
* Analisa Kata (analisa dan observasi)
* Dukungan (teologis; alkitab, kutipan)
* Kristosentris

B. Ilustrasi
* Materi yang akrab dengan pendengar.
* Logis.
* Menarik.
* Mempunyai kekuatan.

C. Aplikasi / Konstribusi:
* Sesuai dengan kebenaran teks.
* Mulai sejak pendahuluan kotbah.
* Bersifat praktis.
* Menyentuh kebutuhan dan persoalan pendengar.
* Personal dan spesifik.
* Disampaikan dengan rendah hati, persuasive,sopan.
* Ditambatkan dengan tugas untuk pendengar

PENUTUP / KESIMPULAN /KONKLUSI
* Rangkuman / Ringkasan
* Undangan
* Kabar baik.
* Ajakan / Penekanan.
* Membuat suatu bantingan yang terakhir (pukulan yang penghabisan sangat
keras), supaya paku benar- benar tertanam pada kayu itu .

PEDOMAN UNTUK MENANGGAPI KHOTBAH
Tulislah tanggapan Anda dengan menggunakan bahasa sendiri terhadap pokok-pokok terpenting dalam khotbah.
Bapak /Ibu. Pendeta / Pdm / Pdb/ Ev : _________________________________

Dampak Umum:
> Khotbahnya berbobot atau lemah ?
> Sungguh-sungguh atau dibuat-buat?
> Menarik perhatian atau membosankan?
> Mudah Dimengerti atau sulit?


ISI:
> Apakah sesuai kebutuhan yang sebenarnya dari jemaat?
> Apakah menggunakan ayat-ayat secara benar dan tepat?
> Apakah cukup menggunakan bahan-bahan lain?
> Bagaimana lukisan/ ilustrasi Khotbahnya? Nyata atau fiksi belaka, membual.
> Aplikasi dalam kehidupan sehari-hari? Mengena, tidak dapat diterapkan.


STRUKTUR:
> Apakah tema utama ? Jelas atau kabur/membingungkan.
> Apakah merupakan kesatuan?
> Bagaimana cara mengembangkan nas tersebut ? Monoton atau berkembangan.
> Perpindahan dari pemikiran satu ke lainnya ? Lancar atau macet /tersendat-
sendat.
> Pendahuluannya ? Lama / putar-putar, jelas / tidak terarah.
> Batang Isi : ada beberapa point ? Maksimal 4 – 7 point (ideal 3 point).
> Konklusi / Kesimpulannya ? Ada hubungan dengan pendahuluan – isi.

PENYAJIAN:
> Apakah khotbahnya jelas / membingungkan ?
> Apakah si pengkhotbah berwibawa atau humoris (bahasa jawa: cengengesan) ?
> Apakah bahasa yang disampaikan mudah dimengerti ? (Bahasa daerah, Inggris,
Mandarin, Yunani, Ibrani, Latin)?
> Apakah disampaikan dengan bebas atau tekanan tertentu (berdasarkan pesan
tertentu)?
> Bagaimana penampilan di mimbar ? Seperti “robot”, “patung” (tidak ada
ekspresi).
> Penggunaan mimik wajah dan gerakan tangan ? Sesuai atau tidak wajar (dibuat-
buat).
> Bagaimana sorot matanya ? Tajam, sayu, menunduk/ menengadah ke langit
/ atap gedung.
> Bagaimana sikapnya ? Sopan santun atau sembarangan (bahasa jawa: urakan).
> Penggunaan catatan khotbah ? Memiliki atau diluar kepala (tanpa catatan).


SUARA :
> Kualitas suaranya ? Prima, enak didengar atau serak /batuk (sedang influenza).
> Nadanya ? Tinggi, sedang, mendatar.
> Berubah-ubah atau monoton ? Menarik atau membosankan.
> Mudah dan jelas didengar atau sulit untuk didengar dan dicerna?
> Ucapan vocal dan konsonan jelas atau pengejaannya /pelafalan? Benar atau
salah.

EMOSI:
> Berkomunikasi dengan keyakinan ?
> Kurang yakin atau khawatir dengan apa yang disampaikan?
> Penuh kasih atau kemarahan (mudah meledak-ledak)?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar